Workshop dengan perempuan kampung Cilincing dilakukan pada tanggal 8 Juni 2018 di Cilincing Kalibaru Jakarta Utara. Ada 25 perempuan yang hadir, 3 anggota SP Jabotabek dan 2 fasilitator diskusi. Diskusi berlangsung selama 1 jam 40 menit. Wilayah Cilincing dijadikan tempat diskusi karena berada di tepi teluk Jakarta yang terkena dampak Reklamasi . Di wilayah ini sudah dibangun tanggul sejak tahun 2016, yang posisinya berdampingan dengan aktifitas warga kampung nelayan di kawasan Cilincing Kalibaru, Jakarta Utara. Pembangunan tanggul merupakan bagian dari masterplan Pembangunan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (PTPIN) atau National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) sepanjang 120 km untuk melindungi pesisir utara Jakarta dari abrasi, mencegah banjir rob, dan penataan kawasan pesisir. Seluruh tanggul ditargetkan akan selesai pada Agustus 2018. Proses diskusi Diskusi yang dilakukan ini untuk melihat sejauhmana kebijakan perkotaan berperspektif gender.  Untuk menggali agar diskusi berjalan sesuai dengan hasil yang diharapkan maka tim peneliti membangun alur sebagai berikut; 1) mengenalkan maksud dan tujuan tim peneliti datang berdiskusi dengan ibu-ibu di Cilincing;  2) perkenalan peserta dengan menyebutkan nama dan pekerjaan, 3) menggali informasi terkait dengan situasi perempuan tentang; kebutuhan, kapasitas, kesempatan mereka dikaitkan dengan program-program yang ada di wilayah Cilincing dan upaya-upaya apa yang sudah dilakukan oleh perempuan dan pemerintah mengatasi kesulitan/masalah. Berikut adalah hasil diskusi yang bisa disampaikan; Akses terhadap pengambilan Keputusan
  • Ada ruang pengambilan keputusan terkait dengan perencanaan di tingkat kelurahan yaitu Musyawarah Perencanaan Pembangunan (MUSREMBANG). Forum ini adalah forum terbuka untuk semua warga untuk mendiskusikan kebutuhan di tingkat RT dan RW. Siapapun boleh terlibat dalam forum ini. Undangan untuk perempuan biasanya diberikan ke Pembinaan Kesejahteran Keluarga (PKK). Namun, dari 25 peserta yang menjadi peserta diskusi ini hanya 5 peserta yang hadir  dalam rapat Musrembang. Alasan ketidakhadiran beragam diantaranya, adalah; 1) waktu rapat pada malam hari sehingga perempuan tidak tertarik untuk hadir karena waktu malam adalah waktu keluarga; 2) tidak begitu tertarik  mengikuti pertemuan, 3) suara PKK/perempuan sudah diwakilkan oleh masing-masing peserta.
Kegiatan malam hari dilakukan karena petugas Rt/Rw juga bekerja di siang hari sehingga malam hari menjadi pilihan untuk dilakukan rapat. Sedangkan, hari Sabtu-Minggu di siang hari tidak bisa dilakukan karena digunakan sebagai hari libur/hari istirahat. Beberapa program yang diusulkan oleh ibu-ibu PKK diantaranya, yaitu;
  • tanaman hijau di dalam pot. Permintaan mereka atas program ini karena wilayahnya di RW 01 sangat gersang, panas dan kering. Dengan berpohon dianggap sebagai salah satu cara menanggulangi masalah lingkungan. Rencananya akan diletakkan di sepanjang jalan dan depan rumah. Realisasi program ini masih sangat minim, baru beberapa/sedikit pohon yang sudah teralisasi;
  • penyediaan tong sampah. Program ini terealisasi sesuai dengan keinginan yang diusulkan;
  • program penyediaan penampungan sampah. Implimentasinya saat ini sedang dalam proses. Lokasi penyediaan pengepul sampah telah disediakan berada di tepi pantai, sudah dibangunkan dinding untuk pembuangan dan pembakaran, namun belum difungsikan.
Beberapa program yang diusulkan dalam Musrembang tidak terealisasi meski sudah 2-3 kali diusulkan, salah satunya permintaan dari  ketua lansia yang meminta tenda untuk dipasang pada saat pemeriksaan lansia.
  • Meski Musrebang sebagai media musyawarah namun ada beberapa hal yang tidak didiskusikan padahal sangat penting, misalnya pembangunan tanggul untuk proyek Teluk Jakarta. Informasi terkait pembangunan tanggul diketahui warga dari mulut ke mulut, tidak secara formal terjadi sosialisasi atau pertemuan publik yang mengikutsertakan warga. Warga menolak pembangunan tanggul lewat aksi-aksi baik sebelum dan seudah pembangunan. Penolakan terhadap tanggul disebabkan karena dianggap terlalu dekat dengan rumah, juga terkait dengan mata pencaharian warga yang hilang akibat terhalang oleh tanggul. Meski telah dilakukan aksi-aksi sebelum dan sesudah tanggul dibangun namun tidak ada reaksi dari pemerintah.
Akses terhadap mata pencaharian Pekerjaan  ibu-ibu yang terlibat diskusi adalah pengupas kerang, pengurus PKK (Jumantik- Juru Pemantau Jentik Nyamuk;  dan Posyandu—mengurusi lansia, ibu hamil dan Balita),  penjual sayur, dan ibu Tumah Tangga.
  • Seluruh peserta diskusi bekerja sebagai pekerja pengupas kerang dan 1-2 orang yang menjadi tokeh (pemilik budidaya kerang). Menjadi pengupas kerang adalah pekerjaan musiman, ketika musim panen kerang tiba. Suami-suami mereka sebagian besar bekerja sebagai nelayan tangkapan. Pada usaha perikanan tangkap, perempuan berperan pada tahap persiapan yaitu mempersiapkan perbekalan melaut (ransum) dan membantu perbaikan jaring, pasca melaut yaitu memilah hasil tangkapan ikan dan memasarkannya.
Setelah didirikannya tanggul juga berdampak besar pada nelayan. Tangkap ikan menjadi sulit karena tanggul yang dibangun menghalangi lalu lalang perahu. Begitupun para penggotong karung hasil panen budidaya kerang juga sangat kesulitan melewati tanggul sehingga hasil yang didapat sangat berkurang jauh.Ada jalan lain tidak melewat tanggul namun harus memmutar sangat jauh dan itu memakan biaya yang tinggi.  Sampai saat ini belum ada usaha pengganti yang bisa menggantikan pekerjaan sebagai nelayan. Selain masalah tanggul, beberapa tahun belakangan ini, kurangnya panen kerang juga disebabkan karena ombak tinggi dan limbah pabrik. Ombak tinggi masih bisa ditoleransi, karena dulu juga begitu, tapi limbah pabrik semakin menyebabkan banyaknya kerang tidak bisa tumbuh. Ini berdampak pada berkurangnya penghasilan sebagai pengupas kerang. Menghadapi masalah dan situasi yang disebabkan oleh pembangunan tanggul, limbah pabrik dan gelombang pasang yang menyebabkan berkurangnya hasil  pencaharian, sampai saat ini belum ada bantuan dan solusi dari pemerintah. Meski ada bantuan yang ditujukan bagi para nelayan berupa perahu tangkap ikan, perlengkapan tangkap seperti jaring dan penangkap ikan lainnya, namun bantuan ini bukan dalam upaya penaggulangan masalah dampak.
  • Menjadi pengurus PKK adalah menjadi hal yang menguntungkan bagi sebagian ibu-ibu di Rw 01. PKK menjadi tempat pendistribusian program perempuan di tingkat RT dan Rw. Seluruh kegiatan yang sifatnya “perawatan” menjadi program perempuan dan diserahkan ke PKK sebagai lembaga perempuan.
Program yang ada di PKK yaitu pengurus Jumantik, Pengurus lansia dan pengurus ibu hamil dan Balita. Ada 15 perempuan yang aktif  terlibat dalam PKK. Mereka yang bekerja sebagai pengurus Jumantik mendapat penghasilan sebesar Rp 500.000 perbulan(honor diterima 3 bulan sekali sebanyak Rp 1,500,000;). Sebelum tahun 2016, bekerja sebagai Jumantik mendapatkan honor 70,000 per bulan (diterima per 3 bulan sekali sebanyak 210 ribu). [1] Pekerjaan ini menjadi berat karena tugas yang dulunya hanya 1 kali seminggu kita harus memeriksa jentik 3 kali seminggu. Hal ini disebabkan karena musim pancaroba dari musim panas ke hujan menjadi tempat berkembangnya jentik-jentik nyamuk sehingga perlu pengontrolan yang lebih intens. Ternyata ini menjadi beban bagi perempuan. Disamping pekerjaan jumantik yang diberi honor,  beban lain juga mengiringi misalnya menjadi pengurus Posyandu yang menangani urusan perawatan lainnya; pengurus lansia, ibu hamil dan anak, KB, BPJS, pembuatan laporan. Hal ini menjadi beban bagi perempuan dan menganggap bahwa honor tidak sebanding dengan kerja yang ada di PKK. (Note: Perlu juga ditanyakan kepada pemerintah persepektif apa yang digunakan untuk menggaji).
  • Sebagai perempuan meski mereka bekerja menghasilkan uang dari hasil kerjanya, sesibuk-sibuknya mereka, pekerjaan rumah tangga; memasak, mencuci, mengurus anak tetap menjadi tanggung jawab perempuan. Namun beberapa perempuan mengatakan suami mereka membantu juga mencuci pakaian.
Akses terhadap kesehatan
  • Tingkat kesehatan ibu dan anak di Cilincing tergolong baik. Wilayahnya tidak termasuk Batas Garis Merah (BGM), yaitu tidak masuk kategori kurang gizi. Saat ini hanya ada 2 kasus yang tergolong BGM di Cilincing. Ada kegiatan rutin di Posyandu terkait dengan pemeriksaan gizi untuk orang tua, perempuan hamil, sedangkan anak ditambah imunisasi. Untuk anak yang kategorinnya kurang gizi akan diperiksa secara intens untuk diberikan tambahan supley makanan tertentu.
  • Fasilitas kesehatan yang terdapat di Posyandu sangat bermanfaat bagi perempuan di wilayah ini, mereka tidak membayar kalau sakit. Mereka bisa pergi ke dokter di Posyandu. Begitupun pemeriksaan untuk Lansia, ibu hamil dan anak. Mereka diberikan gratis untuk pelayanan-pelayanan tertentu. Misalnya imunisasi untuk anak dan pemeriksaan rutin buat lansia, balita dan ibu hamil.
  • Kasus demam berdarah juga berkurang. Tidak ada wabah demam berdarah meski terkadang masih ada yang sakit.
Tantangan: Diskusi ini sangat singkat, belum bisa memenuhi target diskusi terpotong waktu berbuka puasa. Rencananya akan ada diskusi lagi terkait dengan ibu-ibu Cilincing untuk melihat kekurangan hasil diskusi.   Kesimpulan Sebagian besar perempuan yang terlibat dalam diskusi bekerja sebagai nelayan, baik nelayan ikan tangkap maupun budidaya kerang hijau. Sebagian mereka terlibat dalam PKK yang co.benefitnya juga memberikan kuntungan pada akses terhadap ekonomi, dan kesehatan, meski pendapatan yang kecil tersebut dirasa masih sangat kurang dan tak sebanding dengan pekerjaan yang dilakukan. Setelah tanggul dibangun oleh Pemerintah yang tujuannya katanya menghalangi terjadi banjir rob, namun banjir masih kerap datang bahkan semakin besar. Beberapa dugaan karena disebabkan oleh belum adanya  adanya drainase. Hal lain yang sangat berpengaruh terhadap pembangunan tanggul adalah juga berdampak pada berkurangnya mata pencaharian karena perahu nelayan dan pemanggul hasil kerang hijau tidak bisa melewati tanggul. Ada jalan lain memutar tetapi sangat menambah biaya yang sangat tinggi. Sampai saat ini belum ada upaya pemerintah dalam memberikan solusi/bantuan terhadap persoalan yang disebabkan oleh pembangunan tanggul. Meski perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam pemenuhan ekonomi keluarga namun kerja-kerja domestik dalam rumah tangga masih dilakukan oleh perempuan dan masih dianggap sebagai kewajiban seperti memasak, membereskan rumah, mencuci, mengurus anak dan lain-lain. [1] Catatan; Ini akan ditanyakan lebih jauh apakah peningkatan pendapatan honor dari 70,000 ke 500,000 berasal dari kebijakan pemerintah yang mendengar aspirasi warga dimana tugas perawatan bagian dari pekerjaan dan bukan pekerjaan cuma-cuma).  
2 comments
  • SEO Reseller
    Posted on January 23, 2020 at 5:11 pm

    Awesome post! Keep up the great work! 🙂

    Reply
    • Admin Aksi
      Posted on July 6, 2020 at 11:54 pm

      Thank You for your comments. Hope we can work for women empowerment continuously without being bored

      Reply

Leave a comment